Empat Alasan Mengapa Hingga Kini Masih Relevan Memperingati Kematian Marsinah

Marsinah, Tewas Menuntut Upah Layak

Tepat hari ini, 8 Mei, pada 24 tahun yang lalu jenazah buruh Marsinah ditemukan di sebuauh gubuk di hutan jati Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Hingga kini, tidak seorangpun pelaku pembunuhan dan penyiksaan terhadap Marsinah diseret ke meja hijau. Marsinah masih menuntut keadilan dari liang lahat.

Gajah mati meninggalkan gading, Marsinah tewas meninggalkan api perlawanan bagi perjuangan buruh. Berikut hal-hal yang masih menjadi alasan kenapa buruh wajib memperingati kematian Marsinah hingga hari ini:

PP Pengupahan terus ditolak sejak sebelum diterbitkan

1. Perjuangan Marsinah adalah untuk Upah Layak
Kematian Marsinah bermula dari perjuangan menuntut upah minimum. Ketika itu, gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat edaran 50/1992 untuk menghimbau perusahaan menaikan upah buruh 20 persen dari gaji pokok.

Marsinah dan kawan-kawan menuntut produsen arloji itu untuk menaikan upah perusahaan menjadi Rp 2.250. Namun, PT.Catur Putra Surya (CPS) menolak dan berikukuh membandel terhadap surat edarah gubernur.

Buruh akhirnya melancarkan pemogokan pada 3 Mei 1993 diiringi unjuk rasa.
Pada zaman orde baru, melakukan pemogokan membutuhkan keberanian luar biasa.

Hingga hari ini, tuntutan untuk memperjuangkan upah layak masih terus menggema. Jutaan buruh di berbagai penjuru Indonesia berteriak menolak upah murah. Mereka menuntut Peraturan Pemerintah no 78/2015 tentang Pengupahan untuk dihapus.

Dengan kata lain, perjuangan Marsinah masih menemukan relevansinya. Hingga hari ini sejak 24 tahun lalu, buruh masih jauh dari upah layak.

Ratusan Tentara Bersenjata Cegah Buruh menuju Bundaran HI

2. Perjuangan Marsinah Ingatkan Buruh Lawan Militerisme
Pada hari ke-2 pemogokan, tentara dan polisi mulai menyambangi pabrik. Mereka memukul buruh dengan pentungan dan merobek spanduk tuntutan. Tapi, 500 buruh yang mogok tidak tinggal diam dan terus melawan.

PT.CPS akhirya memenuhi tuntutan burunya. Tim pemogokan masih melakukan pertemuan-pertemuan kecil.

Pada 5 Mei, Komando Distrik Militer (Kodim) memanggil 10 buruh PT.CPS. “Kamu tidak usah demo. Kamu harus keluar dari pabrik, tidak usah bekerja,” ungkap salah satu tentara seperti ditirukan Uus, rekan marsinah, dalam berita di Merdeka.com.
Campur tangan militer di isu perburuhan masih terasa nyata hingga hari ini.

Setelah mendengar mereka di Kodim, Marsinah lantas menyusul kawan-kawannya. Namun, ia justru disekap selama tiga hari, disiksa, dan dibunuh dengan keji.

Pada Oktober 2016, mogok anggota Federasi Perjuangan Buruh Indonesia di perusahan produsen air minum Club dihadapkan dengan tentara. Tentara bahkan blak-blakan mendukung perusahaan dengan membantu mengeluarkan persediaan barang dari gudang.

Pada Mei 2016, ratusan tentara bahkan menghadang barisan massa buruh agar tidak memasuki Bundaran Hotel Indonesia dari sisi timur. Barisan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) termasuk yang dihadang tentara dalam aksi ini.

Pada peringatan May Day kali ini, salah satu tuntutan utama Gerakan Buruh untuk Rakyat adalah melawan militerisme. Militerisme muncul salah satunya dengan campur tangan tentara di persoalan-persoalan perburuhan. Campur tangan itu umumnya berbuntut kekerasan untuk menuntaskan sengketa industrial dan hampir selalu kekerasan itu menguntungkan pengusaha serta menindas buruh.

Pada 2014, Lembaga Informasi Perburuhan Sedane juga mengeluarkan video pendek “Hari-hari Terakhir Marsinah” yang ditutup dengan seruan, “Jauhkan Militer dari Urusan Perburuhan.”

3. Perempuan Layak Jadi Pemimpin di Gerakan Buruh
Di zaman orde baru, pemerintah mendorong perempuan dan gerakan perempuan untuk sekedar berkutat pada urusan rumah. Hingga kini, bahkan struktur RT masih melibatkan perempuan di sekedar arisan, posyandu, dan PKK yang menjauhkan perempuan dari ruang publik.

Perempuan sering dianggap tidak mampu memimpin karena mereka adalah “gender kedua.” Perempuan dituduh lebih mengemukakan emosi ketimbang akal dan hanya mampu bekerja di hal-hal yang berkaitan dengan ketelitian.

Marsinah mematahkan cap tidak berdasar tentang perempuant ersebut. Marsinah merupakan pimpinan dari tim pemogokan yang beranggotakan 18 orang. Ia senantiasa yang terdepan dalam pemogokan dan unjuk rasa. Kemampuannya memimpin bahkan menjadikan Marsinah bagian dari tim perundingan.

Pemogokan itu berbuah pada kemenangan berkat militansi perempuan yang pernah bercita-cita bersekolah di IKIP tersebut.

Persoalan cap salah perempuan itu hingga kini masih menggelayuti bahkan gerakan buruh. Survei pada buruh garmen di Jawa barat dan Jakarta menemukan hanya sedikit perempuan aktif di kepengurusan serikat. Jikapun aktif, cap sesat tentang perempuan menjauhkan emreka dari kepemimpinan di serikat.

Survei pada anggota Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan Kulit menemukan hanya ada 64 orang pengurus perempuan di 30 perusahaan. Dari jumlah yang sedikit itu, 31 persen adalah bendara dan 41 persen sekretaris. Perempuan diganjar jabatan itu karena “dicap” lebih teliti dan tekun. Tapi, kedua posisi itu jauh dari kunci pengambilan keputusan.

Menanggapi itu, Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) menetapkan Jumisih sebagai Wakil Ketua Umum. Posisi pimpinan itu diberikan kepada Ketua Umum Federasi Buruh Lintas Pabrik tersebut sebagai dukungan dan pembuktian bahwa perempuan mampu memimpin. Keputusan itu juga ingin menegaskan bahwa ada cap sesat tentang perempuan yang meminggirkan mereka dari posisi strategis di gerakan buruh.

4. Persoalan Marsinah Tidak Kunjung Selesai
Marsinah masih terus mencari keadilan. Hingga kini, tidak satupun pemerintahan di era reformasi serius mengurus kasus Marsinah. Kematian Marsinah ketika itu ramai menjadi pemberitaan. Alhasil, aparat membentuk Tim Terpadu untuk mengungkap kasus tersebut.

Sayangnya, tim terpadu mencoba mencari kambing hitam dengan memaksa 8 petinggi PT.CPS mengaku sebagai dalang pembunuhan marsinah. Dalam skenario yang muncul di persidangan, satpam PT.CPS mengeksekusi Marsinah. Mahkamah Agung akhirnya memvonis bebas mereka. Kesaksian-kesaksian yang tidak konsisten dan para terdakwa yang mencabut berkas menjadi landasan pengambilan keputusan itu.

Peringatan Marsinah hingga kini masih relevan karena pembunuh aktivis buruh itu hingga kini tak kunjung ditemukan. Memperingati kematian Marsinah juga adalah peringatan bahwa keadilan belum tegak bagi aktivis buruh yang menggelorakan perlawanan itu.

Empat alasan di atas jelas jauh dari mencukupi. Ada banyak alasan-alasan lain mengapa kita wajib memperingati marsinah dan memperjuangkannya. Apa alasan memperingati perjuangan Marsinah menurut pembaca?