Emak-Emak Pendukung Revolusi, Bukan Pendukung Borjuasi

Madres Plaza de Mayo

Negara dimana lionel messi dilahirkan, argentina. Menyimpan sebuah epos masa dimana emak-emak (perempuan) berjuang untuk menggulingkan kediktoran dibawah rezim videla setelah menkudeta juan peron. Di sinilah masa kelam Argentina bermula. Pemerintahan Videla tak ragu menindak siapa saja yang mencoba melawan. Melalui kebijakan anti-subversi. Hasilnya, Sekitar 30 ribu warga Argentina diculik, dihilangkan, disiksa, dan tewas.

Aksi kejam rezim videla ini melahirkan sebuah perlawanan. April 1977, lahirlah kelompok pejuang HAM bernama Asociación Madres de Plaza de Mayo (AMPM), atau lebih dikenal sebagai “Ibu-Ibu Plaza de Mayo”. Kelompok ini sebagian besar terdiri dari para ibu yang kehilangan anak mereka selama Videla berkuasa. Waktu itu sebanyak 14 orang (yang semuanya perempuan) melangsungkan protes di depan Istana Kepresidenan Casa Rosada setiap Kamis, pukul 03.30 sore. Mereka menuntut pertanggungjawaban rezim atas anggota keluarga yang hilang. Tercatat 2.037 aksi telah mereka lakukan.

Mari kita berpindah posisi menuju tanah kelahiran kita di masa revolusi. Mengawali perlawanan emak-emak, epos dimana masa-masa revolusi datang. Tanah betawi mengawali kisah ini, sejarah mencatat sejumlah pejuang emak-emak (perempuan) yang ikut serta berjuang membela tanah air. Di antaranya Mirah dari Kampung Marunda, Mpok Ris dari Cipondoh, Nyimas Melati dari Tangerang. Pasca proklamasi aksi emak-emak betawi itu cukup membuat sulit belanda.

Mirah, serta teman-teman emak-emaknya, ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Karena keberaniannya inilah yang menyebabkan dia diberi gelar ‘singa betina dari Marunda’. Mpok Ris dari Cipondoh. Kisah Mpok Ris, singa betina dari Cipondoh inilah yang menjadi cikal-bakal daerah Poris Pelawad di Kecamatan Cipondoh. Mpok Ris dikenang sebagai pendekar yang menguasai cukup banyak jurus silat, bahkan diceritakan dia pernah berguru kepada jawara-jawara Betawi hingga jagoan kungfu dari Tionghoa. Mpok Ris dalam melawan penjajah dia selalu menggunakan batang pohon Plawad yaitu sejenis pohon tebu dalam aksinya.

Epos kisah emak-emak dalam revolusi juga tidak terlepas dari peran sebuah organisasi. Di Jakarta berdiri Wanita Negara Indonesia (Wani) yang mendukung revolusi. Gerakan ini dipimpin oleh tokoh terkenal seperti Ny. Suwarni Pringgodigdo, Ny. Sri Mangunsarkoro, Ny. Kartowiyono dan Ny. Susilowati (PPI). Mereka mendirikan dapur-dapur umum dan mengatur distribusi beras guna mendukung perjuangan. Organisasi baru lainnya seperti Barisan Buruh Wanita yang mempunyai hubungan dengan Partai Buruh Indonesia. Pada 1945, Ny. Sri Mangunsarkoro mendirikan Partai Wanita Rakyat, satu-satunya partai perempuan yang pernah ada. Partai ini bersifat militan dengan prinsip pokok nasionalisme nasionalisme dan monogami.

Di Jogjakarta sendiri terdapat tokoh yang ikut serta membantu perjuangan para gerilyawan Republi Indonesia, beliau adalah Ibu Ruswo. Di masa revolusi, beliau mempelopori dan menggerakan ibu-ibu lainnya untuk menyediakan makanan tahan lama bagi tentara garis depandan gerilyawan. Mulai dari pertempuran di Kotabaru, Magelang, Ambarawa dan semarang, hingga Agresi Militer II Ibu Ruswo siap memberi makanan kepada prajurit.

Barisan bersenjata perempuan pertama, Laskar Wanita Indonesia (Laswi) didirikan oleh Ny. Arudji Kartawinata di Bandung Oktober 1945. Hal ini tidaklah mudah, karena sejumlah Orangtua harus siap melepaskan anak perempuannya yang cantik ke garis depan dengan menyandang senjata. Anggota Laswi terdiri dari mereka yang tergabung dalam barisan Srikandi dan juga dari Pemuda Putri Indonesia (PPI). Para perempuan anggota laskar ini tugas utamanya merawat tentara yang menderita luka-luka, mengatur dapur umum di garis depan, menjahit pakaian seragam, mengajar di kelas pemberantasan buta huruf serta tugas lain yang memerlukan tenaga mereka. Banyak diantara mereka menjadi kurir, suatu tugas penting yang sangat berbahaya.

Epos sejarah emak-emak yang cukup geliat dan baik. Mereka merupakan separuh pemilik suksesnya revolusi. Tidak ingin tunduk pada kekuasaan yang menindas. Tidak mau berkompromi kepada rezim penindas apalagi pelanggar HAM. Keelokkan emak-emak masa itu menunjukan bagaimana peran mereka seharusnya, membela revolusi dengan berada di garda depan bersama buruh dan tani.

Setidaknya, emak-emak masa dulu punya orientasi politik yang tidak melulu berlindung di ketiak penguasa ataupun borjuasi, apalagi menghidupkan lampu sein yang salah. Emak-emak masa itu tegas, mendukung revolusi dan menggulingkan rezim penindas!

Nyatanya masa kini, sejarah itu tidak berulang. Emak-emak harus mulai sadar, sejarah lalu harus di putar kembali. Dimainkan dengan epos baru, Membariskan diri bersama organisasi buruh dan tani, bukan berbaris untuk kalangan borjuasi apalagi memujanya untuk sebuah janji-janji tidak pasti. Harusnya, memastikan sistem ekonomi yang tak pernah terbukti bisa membawa kemakmuran harus masuk liang

Makalah Peranan Wanita Pada Masa Revolusi. Universitas Negeri Jogja. Fakultas Ilmu Sosial. Oleh Alfianto

https://jakartakita.com/2012/04/19/singa-betina-dari-betawi/

Penghancuran Gerakan Perempuan. Saskia E Wieringa

 

(Penulis: Zaki Muhammad)