Dukung Perjuangan Buruh AMT Pertamina, Keluarga Buruh Terlibat Unjuk Rasa di Kemenaker

Para Istri Buruh AMT Pertamina Terlibat Aksi Unjuk Rasa di Kemenaker

Buruh.co, Jakarta – Para ibu-ibu, istri buruh Awak Mobil Tangki Pertamina, terlibat aktif dalam unjuk rasa seribu buruh AMT di Kementerian Tenaga Kerja pada Kamis, 6 Juli 2017. Bahkan, salah seorang istri memberikan orasi, menceritakan dampak outsourcing pada keluarga dan dukunganya pada perjuangan berskala nasional tersebut.

Salah satu yang hadir adalah Siti Hamdanah. Suaminya sudah empat tahun bekerja sebagai supir tangki di Depot Plumpang, Jawa Barat. “Belum pernah ikut demonstrasi sebelumnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, aksi di depan Kemenaker ini merupakan yang pertamakalina ia bergabung dalam sebuah demonstrasi. Meski begitu, perempuan dengan tiga anak itu berkomitmen penuh terhadap aksi. “Sampai entar dipenuhi semua hak-hak kita. Kita akan tetap di sini,” sebutnya pada Kamis siang.

Perempuan yang mengontrak di Plumpang itu sebelumnya sudah paham, mereka akan bertahan di kantor Menteri Hanif Dhakiri hingga aksi dipenuhi. Ia sendiri juga sudah menyaksikan mobil barakuda, polisi dengan peralatan lengkap, dan motor trail hanya terpisahkan pagar gerbang dengan barisan buruh. “Prihatin, pemerintahan seperti ini. Kecewa. Orang kecil, kecewa,” protesnya.

 

Siti Hamdanah (Jilbab Coklat)

PHK Pertamina dan Lebaran yang Sunyi

Siti Hamdanah masih ingat betul di pekan pertama bulan puasa. Ia menerima surat dari perusahaan dan membukanya. “Kejadian PHK lewat surat, ke rumah, lewat kantor pos. Saya shock, karena baca ini, tidak ada pelanggaran apa-apa tahu-tahu dapat surat PHK,” ungkapnya.

Semenjak itu, suaminya tidak lagi menerima upah. Padahal, anak-anaknya masih harus membayar uang sekolah. “Karena bayar SPP kita telat, biasanya nggak telat. Soalnya, pembayaran dari Patra juga suka mundur,” keluhnya. Tidak hanya itu,  uang saku ketiga anak terpaksa ia pangkas.

Kejadian yang menyayat hati Hamdanah adalah PHK itu berdampak pada lebaran. Ia tak lagi pulang ke kampung halaman. Bahkan, sekedar untuk berwisata mengisi libur lebaran ia urungkan. “Lebaran di rumah saja. Pergi ke tetangga,” tuturnya.

 

Demi menyambung hidup, Hamdanah berjualan makanan kecil-kecilan. Namun, pendapatan jauh dari mencukupi. Hamdanah berharap suaminya dapat kembali bekerja dan menjadi karyawan tetap. Dengan begitu, dapur keluarga bisa kembali mengepul.

“Buat pertamina dan patra niaga, kami selaku Awak Mobil Tangki dari PIhak istri memohon agar suami kami dipekerjakan kembali. Diangkat karyawan. Kami menuntut hak-hak kami,” tegasnya.