DI SETIAP KEHILANGAN, KITA MENEMUKAN KEKUATAN

*048

-Kami, mencintaimu, Bu Patmi-

Rasanya baru kemarin, kita menyeka air mata karena kehilangan Atma, anak muda yang setia mengendarai motornya menjelajahi setiap sudut jalanan Semarang – Kendeng. Anak muda, pengacara muda yang berpulang mendahului kita karena kecelakaan di jalanan. Dan kini, ketika air mata itu belum benar-benar mengering, kabar duka kembali menemui kita. Bu Patmi, perempuan berusia 48 tahun, salah satu dari sekian banyak perempuan Kendeng, Kartini, yang mencoba menghalau gelap agar terbit cahya terang, juga harus pergi. Selama-lamanya.

Kalau kita menangis, tentu karena kesedihan yang dalam. Tapi, kita juga menangis sebab Bu Patmi harus pergi sebelum merasakan kemenangan yang ia perjuangkan. Tangis ini, juga semacam janji bagi kita untuk menulis obituari, merekam ceritanya, mendengar kembali keyakinannya bahwa perjuangan ini, bukan semata tentang dirinya saja. Perjuangan ini, pasti dan tentu untuk jutaan manusia kelak kemudian hari. Agar besok, tetap bisa melihat air mengalir dan memanen jagung, singkong, sayuran dan padi di tanah leluhur itu. Dia ingin, anak, cucu, cicitnya kelak tetap bisa mendengar suara burung-burung di sisi pegunungan Kendeng. Dan sekarang, burung-burung berwarna hijau, dengan suara yang riuh, telah menyambutnya di balik pegunungan itu, mengantarkan ruhnya menghampiri KhalikNya.

Bu Patmi, itu seperti bunga Padma, yang mekar di tengah kolam. Dia, menjadi sebuah cerita tersendiri di tengah cerita panjang tentang perempuan-perempuan yang turun gunung. Meninggalkan anak dan keluarga, mengorbankan hartanya agar kekayaan yang lebih utama tidak dikorbankan demi seonggok ambisi busuk milik penguasa. Bersama perempuan perkasa lainnya, dia menerima kodrat, takdir dan pilihan sejarah untuk abai dengan lelah, lapar, dahaga, penat dan sakit. Dia, bersetiatuhu dengan pesan purba yang ia yakini, bahkan sejak ia belum dilahirkan di sisi Gunung itu. Pesan itu menitipkan sebuah pilihan untuk menjaga ibu bumi….. Ibu bumi yang sudah memberi, ibu bumi yang sedang disakiti…. dan kelak, ibu bumi yang akan membalasnya…..

Sebuah siang yang mendung, ketika berita duka itu masuk satu persatu mengguncang aktivitas kita. Lalu, seperti wayang-wayang yang berlalu lalang di layar, serupa kelir berwarna putih, dengan blencong yang menerangi, membentuk siluet-siluet yang gaduh. Satu persatu, kita mencatat. Satu persatu kita ingat. Satu persatu kemudian kita pilih sebagai lakon, pada siapa kita akan berpihak. Kepergian Bu Patmi, mengajak kita untuk tetap tinggal dan bersama mereka yang masih bertahan.

Mari, antarkan kepulangan Bu Patmi dengan untaian doa, dengan tundukan kepala, dengan mulut yang khidmat, dengan hati yang tenang, dengan mata yang tetap berjaga, dengan tangan yang tetap tengadah, dengan seratus juta pengharapan dan tentu saja satu keyakinan : BESOK KITA PASTI MENANG!

Gusti Yang Maha Welas, Asih dan Pemaaf…. Berikan tempat terbaik untuk pahlawan kami. Dan berikan kami kekuatan, untuk tetap bersama dan menjaga sedulur yang masih ada…. Joko Prianto, Gunretno, Herno, Sukinah, Murni, Sarutomo…….

Selamat Jalan, Bu Patmi.
Kami, akan meneruskan perjuanganmu!
Menjaga Ibu Bumi, yang sudah memberi….. Ibu Bumi yang sedang disakiti! Kepergianmu adalah kehilangan. Tapi, kami menemukan KEKUATAN berlipat ganda….

Karawang, 21 Maret 2017, 14:15.

Yang mencintaimu dengan sangat : Khamid Istakhori