Cerita yang Selalu Awet: John Lennon

John Lennon

Dipucuk September 1970, album itu mulai dipitakasetkan. Ini akan jadi album pasca Beatles pertama baginya. Setahun sebelumnya, John telah bercerai dengan band lamanya, band paling hebat di zamannya atau mungkin band terkuat sepanjang masa.

John telah memutuskan melanjutkan kiprah musik sendirian, tidak benar-benar sendiri sebetulnya, Yoko Ono berdiri bersamanya. “John Lennon/Plastic Ono Band” nama yang diberikan kepada album 11 tembang yang rilis bulan Desember.

Banyak yang menanyakan apa bagusnya Ono hingga turut ditulis sepenting nama John. Kelak, sepeninggal John, Ono terbukti memang bukan siapa-siapa. Ia lebih dikenang sebagai bekas kekasih sesosok dewa, dibanding menjadi dewi dari dirinya sendiri.

Album John Lennon/Plastic Ono Band dibuka dengan lagu “Mother”. Liriknya dialamatkan ke Alf, yang meninggalkan keluarga saat John bayi. Juga kepada Julia yang tak tinggal bersamanya. Alf dan Julia tak lain ayah dan ibu John.

Di lagu ketujuh ada “Love”. John selalu punya cara menulis lirik yang tak biasa. Cinta kerap ditulis secara berlebih, sementara John membuatnya menjadi bersahaja dan ringkas, tanpa luntur bobot rasanya.

Di album juga tersemat “Working Class Hero”. Lagu politik; kehidupan klas pekerja. Pada wawancara dengan majalah Rolling Stone, John bilang, ini tentang kehidupan kelas pekerja yang diproses menjadi “kelas menengah”.

John tak lupa menunjukkan identitas a religius nya. “God” menunjuk terang-terang perihal kosongnya agama. Bila di Beatles John pernah bilang ‘Beatles lebih populer dari Yesus’, dilagu ini John menegaskan tak ada agama yang patut dianut.

Tuhan hanyalah konsep belaka, demi mengukur derita manusia, demikian ujar lirik pembukanya. Album ini kelak oleh majalah Rolling Stones di tahun 2012, diganjar peringkat 23 dalam “The 500 Greatest Albums of All Time”.

Seperti Shankly, John sungguh sosok yang baka di kotanya, Liverpool. Bakat, keterusterangan, kompleksitas, pemberontak dan yang terutama dia adalah jenius musik yang mungkin belum ada duanya. John punya semua, satu hal yang tak dipunya John: umur panjang.

Memang begitulah John. Lelaki yang tak pernah akur dengan agama dan kekuasaan. Seorang penista bagi keduanya. Yang menggunakan popularitas dan talenta seni untuk kampanye yang diinginkan. Mengerti benar bahwa mulutnya benar-benar disimak.

John mengutuk kolonialisme Inggris dalam “The Luck of The Irish”. Kritik pedas pada misoginisme dalam “Women is The Nigger of The World”. Dan mungkin yang paling dikenal adalah tembang universal bertajuk “Imagine”. Bagi sebagian liyan, ini lagu perdamaian, padahal bukan.

Ini merupakan lagu nomor 3 dari “The 500 Greatest Songs of All Time”. Seorang jurnalis majalah New Musical Express diutus pergi demi menanyakan arti lagu ini dan John memberi jawaban,

“…lagu ini hampir menyerupai bentuk ringkas dari Manifesto Komunis, meskipun aku ini tidak terlalu komunis dan aku tidak menjadi bagian dari gerakan politik manapun.”

Di lain kesempatan, -masih tentang lagu tersebut-, Geoffrey Giuliano dalam bukunya, merujuk pengakuan yang keluar langsung dari si empunya karya, menulis,

“…sebuah lagu yang mendeklarasikan anti theis, anti nasionalistik, anti konvensional dan anti kapitalisme. Tetapi karena liriknya diperhalus, lagu ini dapat diterima.”

John adalah politik yang berdendang. Aktivis anti perang Vietnam yang getol. Dia yang membuat pemerintahan Nixon muak dan berusaha mengusirnya. John rela merogoh kantong dalam-dalam demi memasang tulisan “War is Over” pada billboard di 15 kota.

Aktivitas politiknya lantas tahun makin bergerak jauh ke tepi kiri. Teleponnya disadap. Dikuntit FBI. Dia berhubungan dengan Black Panther Party.
Menurut laporan pengawasan FBI, dan dikonfirmasi oleh Tariq Ali pada 2006, Lennon bersimpati kepada International Marxis Group.

Bagi saya sendiri, John Lennon ialah sosok yang mula-mula mengajari saya menulis, lewat lirik-liriknya. Jauh sebelum pusparagam karya sastra membuat saya jatuh hati, John lah yang membuat yakin, menulis merupakan cara terbaik manusia meraih satu bagian jiwanya, bagian terbesar harus direbut lewat berjuang.

John mati dengan cara yang tak kalah sastrawi. David Chapman mulanya penggemar Beatles. Belakangan, sebelum menembak John, David memutuskan menjadi seorang Kristen garis keras. Dia adalah sosok pemuda hijrah.

Sama seperti remaja-remaja di negara kapitalis macam Amerika atau Inggris, yang dulu menggemari pernak-pernik kehidupan modern, kemudian tiba-tiba berbalik arah mengikut sabda kudus. Lalu membenci dunia yang penuh dosa, sehingga perlu disucikan.

Usai menghabisi John dengan revolver Colt 38 special, alih-alih pergi, Chapman malah berdiri di tubuh bersimbah darah itu sembari membaca, “The Catcher in The Rye” karya J.D Salinger. Dia menikmati paragraf kesukaannya di atas mayat musisi terbesar yang pernah lahir.

Ketika berita kematian John menyebar, majalah Time, salah satu publisitas terpenting di Paman Sam memasang gambar John Lennon di sampul depan dengan judul tunggal, “When The Music Died”. Itu adalah hari John terbunuh dan musik ikut mati bersamanya.