Buruh (Sedari Dulu) Berjuang!

Semaoen

Kata siapa buruh tahunya cuma ganjal perut? Setelah ratusan tahun diperas darah dan keringatnya. Setelah nenek moyang para buruh yang jadi tani itu diperas raja-raja feodal, lalu diperas lagi oleh kapitalis kolonial (Eropa-Belanda) di pabrik-pabrik juga di kebun-kebun. Namun, buruh-buruh pribumi, berkat kawan-kawan buruh beda bangsa lainnya juga, tersadarlah juga akhirnya.

Para buruh-buruh di tahun 1915an, buruh-buruh bangkit. Mereka mulai ikut organisasi-organisasi agar sejahtera hidupnya. Ada buruh terpelajar macam Semaun atau Thomas Najoan yang jadi pemimpin mereka menuntut penghidupan layak. Di luar itu ada tokoh pergerakan macam Agus Salim, Suryopranoto dan Ki Hajar Dewantara yang bersama buruh bergerak dalam pergerakan nasional.

Bulan Mei 1923, buruh-buruh kereta api di Jawa serentak mogok dan bikin pemerintah kolonial pusing. Tak bekerjanya buruh kereta api bikin kereta api pengangkut hasil bumi, tak terangkut berarti tak terjual. Tak terjual tak ada pemasukan bagi pengusaha, juga tak ada pajak yang bikin gemuk kas pemerintah kolonial. Waktu Pemerintah kolonial potong gaji, maka awal tahun 1933 buruh-buruh laut di Kapal Zeven Provincien berontak di atas kapal.

Meski pemogokan dan pemberontakan itu digebuk pemerintah, tapi kaum buruh tak pernah takut. Jadi korban itu konsekuensi perjuangan. Tidak ada yang gratis dalam memperoleh kesejahteraan. Dulu, pernah ada orang Belanda bernama Sneevliet yang rela keluar dari pekerjaannnya yang bergaji besar, hanya untuk membela buruh pribumi. Juga Djohan Sjahroezah, mantu Haji Agus Salim, yang juga pernah jadi buruh—tak takut dipecat dari pekerjaannnya yang bergaji besar. hanya karena mendirikan serikat buruh. Semaun juga harus diusir dari Jawa karena bela buruh kereta api yang mogok di tahun 1923. Thomas Najoan juga dipecat karena ikut membela saudara sebangsanya yang jadi buruh.

Jadi, sejak masa kolonial, para buruh sudah sadar, diamnya para buruh adalah kelanjutan dari penindasan para majikan atas mereka. Selain berjuang untuk perutnya, harus diingat kalau orang-orang yang berjuang dalam perang kemerdekaan Indonesia melawan tentara Belanda dari 1945 sampai 1949, tidak cuma tentara. Ada buruh juga di dalamnya.

Mereka harus tinggalkan perkakas mereka lalu angkat senjata. Ada Barisan Buruh Indonesia (BBI) yang menghimpun bermacam-macam buruh. Dari kantor pos ada Angkatan Muda Pos Telegraf dan Telepon. Di perusahaan listrik dan gas ada Angkatan Muda Gas dan Listrik. Di kalangan buruh minyak ada Laskar Minyak. Tentu saja ada buruh-buruh yang berjuang tanpa bergabung dengan organisasi buruh. Mereka bisa di mana saja. Bahkan, di Ketentaraan sendiri berisikan pemuda-pemuda yang berhenti sebentar jadi buruh. Nah setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia, banyak yang keluar dari ketentaraan dan jadi buruh lagi.

Jadi kalau ada yang bilang buruh itu tak punya jasa pada negara ini, jelas itu orang buta sejarah. Jangan lupa, Tunjangan Hari Raya juga perjuangan buruh. Tanpa itu, semua buruh bahkan PNS akan kelaparan di hari lebaran.

Ditulis oleh Puradisastra, sejarawan lulusan sebuah universitas negeri di Yogyakarta