Buruh Perlu Perkuat Solidaritas Lawan Pola Rantai Produksi

Diskusi soal Rantai Produksi FPBI

Buruh.co, Jakarta – Kebutuhan untuk memperkuat solidaritas semakin mendesak dalam menyikapi pola rantai produksi pengusaha. Pola ini memecah produksi suatu komoditas ke berbagai vendor atau pemasok yang kerap terpencar di berbagai kawasan industri atau bahkan negara.

Hal tersebut terkuak dalam diskusi soal rantai produksi di Sekretariat Federasi Perjuangan Buruh Indonesia, Jakarta. Diskusi tersebut menghadirkan peneliti perburuhan dari Lembaga Informasi Perburuhan Sedane, Iip Wijaya pada Rabu, 25 Oktober 2017.

Pengurus FPBI Riski Ramadhan menyebutkan rantai produksi semakin melemahkan buruh. “Buruh dikotak-kotakkan sesuai spesialis kerja dan produksinya padahal diatasnya dinaungi oleh 1 perusahaan multi nasional,” ungkapnya.

Di salah satu basis FPBI di PT.Daihatsu, perusahan melakukan pemberangusan serikat. “PHK anggota setelah mendirikan serikat di perusahaannya pada Januari 2017,” imbuhnya.

Padahal, perusahaan-perusahaan internasional pada umumnya memiliki code of conduct yang melarang pemberangusan serikat. Para buruh itu mempertanyakan kepastian kerja karena terus menerus berada dalam status kontrak.

Masalahnya, peraturan internal itu sering kali enggan diterapkan pada para pemasok di rantai produksi. Selain itu, code of conduct tidak bisa menjadi landasan gugatan.

Pemateri dari LIPS, Iip menyebutkan solidaritas buruh bisa memperkuat tekanan pada perusahaan yang memiliki rantai produksi. Dengan begitu, persoalan di salah perusahaan bisa mendapat dukungan buruh lainnya di sebuah rantai produksi.

Solidaritas itu juga menghapus sekat-sekat bagian yang diciptakan oleh sistem rantai produksi. Untuk itu, sekat-sekat antar serikat juga perlu dikikis agar memperkuat solidaritas dalam sebuah rantai produksi.