Berhutang Gara-gara Narik, Para Supir KBN Cakung Geruduk Perusahaan

Para Supir bagian Logistik KBN Geruduk Perusahaan

Buruh.co, Jakarta – Puluhan supir dan kernet menggeruduk kantor PT Kawasan Berikat Nusantara Cakung, Jakarta Utara, pada Kamis, 19 Juli 2018. Ini merupakan aksi hari ke-4 para buruh perusahaan BUMN yang belakangan kehilangan order. Para buruh yang masih bekerja berdasarkan sistem borongan ini tidak lagi mendapatkan tugas setelah lebaran. Pasalnya, mereka memprotes penugasan ke perusahaaan pelat merah lain, Krakatau Steel berdasarkan sistem baru yang merugikan.

Hambali, salah satu perwakilan pekerja menyebutkan, ia dan sejumlah kawan pernah mencoba menjalani sistem kerja baru di Krakatau Steel. Namun, sistem itu merugikan buruh. “Bahkan setelah kita jalani 40 persen (dari rumus tonase per kilomter.red) tanpa kenek bpjs dan uang makan, rata2 punya utang 900-1 juta per bulan,” ujarnya. Dalam dua minggu, para supir itu beroperasi ke berbagai tempat dari Cilegon, seperti ke Karawang dan sebagainya.

Para anggota Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) itu mendesak perusahaan PT.KBN untuk mengembalikan sistem yang lama. Mereka meminta sistem kembali pada rumusan 48 persen dengan sejumlah insentif agar mereka mendapatkan upah alih-alih mesti merogoh kocek pribadi untuk kepentingan perusahaan.

Mereka melakukan aksi duduk sambil menunggu keputusan bipartit yang dilaksanakan pada 13 Juli 2018. Perusahaan sempat menjanjikan akan memberikan keputusan pada tiga hari setelah bipartit. Dalam biprartit itu, buruh anggota Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) itu menuntut hak-hak normatif seperti upah dan pengaktifan kembali keanggotaaan di BPJS.

Hambali, perwakilan pekerja supir, menyebutkan beberapa karyawan sudah bekerja belasan tahun. “Saya bekerja 12 tahun di logistik PT.KBN. Saya sebelumnya hak bpjs aktif,bonus dapat tapi yang saya sesalkan ketika bulan ini hak kami dihilangkan di antara hak bpjs di stop uang kernet dihilangan dan saya mohon kepada pihak managemen PT KBN dapat realisasikan,” ungkapnya.

Selain penghentian order, para buruh juga tengah bertanya-tanya soal armada yang biasa mereka operasikan. Sebab, armada-armada tersebut sudah dipindahkan ke perusahaan pelat merah lainnya di KBN Marunda. Sebelumnya, para buruh bahkan sempat tidak mendapatkan THR. Namun, THR akhirnya cair setelah mereka melakukan aksi.