Belajar Kampanye Sistematis dan Terukur

Shera Rindra, anggota department komunikasi dari Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI)

Buruh.co, Jakarta – Menghadapi era informasi, serikat buruh semakin perlu untuk melakukan kampanye secara sistematis dan terukur. Belasan buruh dari Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia Jawa Barat melakukan diskusi dan berbagi pengalaman soal cara melakukan kampanye secara efektif. Dengan begitu, perjuangan buruh dapat merengkuh dukungan baik dari pekerja terorganisir, tidak terorganisir, atau bahkan masyarakat umum.

Koordinator Departmen Media dan Kampanye KPBI Jawa Barat Herman Beib menyebutkan pembelajaran ilmu baru tersebut diharapkan akan menambah strategi gerakan. “Ilmu baru akan membuat kita untuk lakukan kerja2 yang baru,” ujarnya pada Minggu, 24 September 2017.

Dalam pendidikan yang berlangsung di Sekretariat FSP2KI Karawang tersebut, diskusi dibuka dengan persoalan kampanye. Para peserta beranggapan banyak media mainstream memojokan buruh. “Ketika May Day, yang ramai diberitakan malah karangan bunga dibakar,” ungkap salah seorang peserta.

Selanjutnya, pembahasan mengarah pada pengertian kampanye. “Kampanye merupakan tindakan untuk menyebarkan informasi untuk mengubah sikap dan pada akhirnya mengajak terlibat,” ungkap fasilitator Ian Ahong, dari Departmen Media dan Kampanye KPBI. Untuk itu, kampanye mesti dilakukan secara terencana, sistematis, dan terukur. Perlu dipetakan target kampanye, karakter sasaran kampanye, dan indikator.

Simulasi Pembuatan Perencanaan Kampanye Sosmed

Era sekarang ini media elektronik sudah semakin canggih dan semakin terjangkau harganya, media sosial yang sering dipakai kalangan buruh untuk menyampaikan pesan. Dengan demikian pentingnya buruh memanfaatkan media counter isu black compaign dan kampanye propaganda buruh.

Selain itu, hadir juga pakar strategi kampanye media, Shera Rindra. Ia merupakan anggota department komunikasi dari Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) yang merancang sejumlah strategi kampanye sosial media. Di antaranya adalah kampanye Aliansi Laki-laki Baru.

Menurutnya, media sosial bisa digunakan untuk menyebarkan informasi dan menumbuhkan kesadaran. Sebagai tahap awal, Shera menyarankan untuk memetakan jenis media sosial yang dibutuhkan untuk menyasar target. “perhatikan massa dan efektifitas dari aplikasi media sosial yang dipilih,” ujarnya.

Setelah itu, tim kampanye mesti menyusun dan merancang strategi. “Buat perencanaan konten media sosial termasuk timeline kerja dan operasional setidaknya 3 bulan ke depan. Pakai kacamata publik, bukan perspektif pribadi,” sarannya.

Terakhir, bentuk tim kerja dan operasional untuk mengejawantahkan rencana tersebut. “Kerja dari
medsos harus dilakukan secara konsisten. Publikasi dilakukan dengan bentuk komunikasi dua arah,” katanya.

Pelatihan dihadiri oleh berbagai federasi yang menjadi anggota KPBI di Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Peserta pelatihan yang hadir dari Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas, Federasi Perjuangan Buruh Indonesia, dan Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia. Selain itu, hadir juga perwakilan dari Serikat Mahasiswa Indonesia Jakarta dan Sulawesi sebagai undangan.