Belajar dari Pemogokan di Amerika Latin

Diskusi Buruh dan Politik di FBTPI-KPBI pada Selasa, 9 Mei 2017

Buruh.co, Jakarta – Buruh di Indonesia dianggap bisa belajar dari pemogokan buruh di Amerika Latin. Beberapa negara di Amerika Latin memperingati Hari Buruh Internasional dengan melakukan pemogokan nasional. Mogok nasional itu berlangsung untuk memperjuangkan tidak hanya isu-isu perburuhan tapi juga persoalan masyarakat umum.

Pembelajaran tentang Amerika Latin itu merupakan bagian dari diskusi buruh dan politik di Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI-KPBI). Diskusi yang dihadiri belasan buruh anggota federasi.

Pemantik diskusi Budi Wardoyo menyebutkan pemogokan di Puerto Rico merupakan bentuk perlawanan terhadap hutang luar negeri. Sementara, di Argentina mogok bertujuan melawan harga listrik dan gas yang melonjak tinggi. “Brasil lumpuh karena pemogokan umum menuntut reformasi neoliberalisme,” kata pria yang akrab dipanggil Yoyok pada Selasa, 9 Mei 2017.

Buruh Bersama Rakyat Lawan Neoliberalisme

Diskusi menyimpulkan ketiga negara memiliki kesamaan dalam proses pembuat kebijakan. Ini karena kebijakan dibuat melalui perjanjian-perjanjian serta campur tangan pemodal melalui lembaga internasional seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Kebijakan yang dimotori pemodal itu memiliki sejumlah kesamaan. Di antaranya pembengkakan hutan luar negeri, pencabutan subsidi (pensiun, kesehatan, pendidikan, listrik, BBM), dan reformasi ketenagakerjaan (penghapusan pesangon dan outsourcing).

Dalam melakukan Pemogokan Serikat-serikat Buruh dan Konfederasi-konfederasi Buruh keluar dari pabrik-pabrik serta guru, pelajar yang keluar dari sekolahnya, petani membawa traktors, ibu-ibu rumah tangga yang membawa dan memukul panci serta pemuka agama pun ikut melakukan pemblokiran atau penutupan jalan, bandara, Pelabuhan dan gedung-gedung pemerintahan selama beberapa hari.

Dari pemerintah langkah-langkah represif pun dilakukan karena terlihat dari ditempatkannya polisi didalam gedung-gedung kosong (Sniper) dan terjadinya penembakan terhadap para demonstran.

Sebagai alat propaganda, selain menggunakan Media-media Independen, rupanya dengan satu orang menggunakan HP pun bisa menjadi “wartawan” dalam hal menyampaikan langsung apa yang menjadi permasalahan atau isu yang terjadi dan cara ini cukup baik untuk menarik perhatian rakyat lainnya karena terbukti massa yang terlibat makin bertambah bahkan sampai puluhan juta rakyat yang ikut melakukan Pemogokan.

Belajar dari Amerika Latin

Peserta diskusi menanggapi pemogokan di Amerika Latin dengan antusias. Gerakan buruh di Indonesia dianggap bisa belajar dari Amerika Latin. Diskusi setidaknya mengerucut tiga poin yang perlu dipelajari.

Pertama, Perlu adanya persamaan cara pandang antara Pimpinan buruh dan elemen pergerakan rakyat lainnya dalam merespon permasalahan yang ada. Kedua, “Buruh dan Pelajar yang berorganisasi bisa melakukan upaya agitasi langsung terkait permasalahan yang ada, mulai dari ruang lingkup lingkungan keluarga, RT/RW dan lainnya, Melalui pertemuan-pertemuan kecil, selebaran serta membuka tempat bacaan,” jelas salah satu peserta diskusi Feri Irawan.

Ketiga, warga bisa aktif memanfaatkan alatnya, seperti telepon genggam, untuk membakar semangat perlawanan. ” Satu orang dengan memanfaatkan alat (HP)nya bisa menjadikan dirinya wartawan untuk menanyakan dan merekam langsung apa yang menjadi permasalahan di masyarakat lalu disebarluaskan,” terang Feri menyarikan tanggapan peserta diskusi.

(Tulisan ini disusun dengan reportase bersama peserta diskusi Feri Irawan)