Banyak Buruh Pabrik Belum Pahak Hak Cuti Haid dan Melahirkan

 

Bapor SERBUK Ahmad Sadeli di aksi Hari Perempuan Internasional

Buruh.co, Jakarta – Banyak buruh pabrik belum pahak bahwaa mereka memiliki hak-hak menjadi ibu atau hak maternitas. Hak itu adalah hak cuti hamil dan hak cuti haid. Maka, Ahmad Sadeli, salah satu anggota Barisan Pelopor (Bapor) Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK-KPBI) Indonesia, mengajak semua buruh memperjuangkan hak tersebut.

Ajakan itu ia sampaikan dalam aksi Peringatan Hari Perempuan Internasional di Pelataran Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) memberikan dukungan atas perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan. Menurut lelaki yang akrab disapa Beler ini, kesetaraan bukan sesuatu yang turun dari langit, tapi harus diperjuangkan dengan serius. “Kalau kita menyatakan bahwa kesetaraan itu bagian dari kemerdekaan, seharusnya kita berjuang untuk merebutnya, sebab tak ada kemerdekaan yang turun dari langit,” ujar Beler menyemangati.

Beler merasakan kesedihan mendalam, sebab banyak teman-teman buruh di pabrik yang belum paham hak-hak yang melekat pada dirinya. “Mereka tidak tahu hak-hak terkait cuti haid, hak cuti hamil, dan bahkan hak terkait jam kerja,” ujar Beler. Kondisi ini, merupakan tantangan serius bagi serikat buruh, terutama di tempat kerja. Kesadaran buruh perempuan untuk memahami haknya, akan sangat memudahkan serikat buruh menggerakkan perjuangan di tempat kerja, sebab dengan kesadaran itu, buruh akan selalu mencari upaya untuk mengubah kondisi buruk di tempat kerjanya.

Apa strategi penting serikat buruh untuk meningkatkan partisipasi buruh perempuan? Beler memberikan beberapa  pandangannya. “Kuncinya ada pada buruh perempuan. Mereka harus bergerak untuk mengubah nasibnya,” ujar Beler. Selain itu, serikat buruh harus memastikan dalam konstitusinya bahwa perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi pengurus diserikat buruh. Cara untuk mencapai itu, Beler menambahkan  beberapa usulan terkait dengan pendidikan secara reguler dan kesediaan serikat buruh membangun kesadaran politik anggotanya. “Cara-cara itu, apabila dijalankan dengan serius, saya yakin akan mendorong kesetaraan di dalam tubuh serikat buruh,” kata Beler.