Awas, Lembur Berbahaya bagi Kesehatan dan Kehidupan Sosial Buruh!

Buruh.co, Jakarta – Bekerja lembur membahayakan kesehatan dan merugikan sisi sosial buruh. Untuk itu, Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Indonesia menghimbau warga Karawang, Jawa Barat untuk merebut kembali 8 jam kerja.

Federasi SERBUK melakukan ajakan itu di Bundaran Mega Mall, Karawang Barat. Karawang merupakan kabupaten dengan pabrik terbanyak kedua setelah Bekasi dan memiliki pertumbuhan jumlah pabrik yang tinggi. “Betapa pentingnya kesehatan betapa pentingnya kerja dan kita sebagai kepala keluarga untuk mengurus anak istri kita di rumah,” Seru Ketua Federasi SERBUK PT.Siamindo Kirman pada Minggu, 16 April 2017.

Kirman menyebutkan lembur merusak kesehatan fisik pekerja. Peran buruh dalam rumah tangga juga terkikis akibat kerja lembur. “Dengan bekerja lembur, kita sudah mengurangi jam untuk keluarga, kita sudah mengurangi jam kita bersosialisasi atau bermasyarakat dengan para tetangga kita,” terangnya.

Untuk itu, federasi anggota KPBI itu menyerukan agar dikembalikannya 8 jam kerja. Seruan itu merupakan tema utama federasi yang bermarkas di Karawang tersebut dalam perjuangan May Day 2017.

SERBUK menyatakan upah layak merupakan salah satu kunci untuk mengembalikan jam kerja itu. Jika mendapatkan upah layak, buruh tidak perlu lagi bekerja lembur untuk menjaga dapur mengepul.

Data Statistik ILO memperkirakan Indonesia merupakan negara ke-3 di ASIA dengan jam kerja paling panjang setelah Korea Selatan dan Hong Kong. Berdasarkan data resmi itu, sebanyak 26 persen buruh kita bekerja lebih 49 jam selama seminggu.