Atasan Gagal Jelaskan Prosedur Penugasan Pekerja Bank Permata

Sidang Ida Margaret Liani (Pekerja Bank Permata)

Buruh.co, Tangerang – Persidangan perselisihan industrial pekerja Bank Permata gagal membuktikan alasan kuat tuduhan mangkir pada seorang pekerja bank. Persidangan di Pengadilan Hubungan Industrial Serang tersebut terkait tuduhan mangkir pada Ida Margaret Liani yang mempertanyakan penambahan tugas yang terkesan dipaksaan tersebut.

Ida Margaret Liani yang bekerja di Bintaro, Tangerang Selatan (Banten) mendapat tugas ke Hayam Wuruk (Jakarta Barat). Padahal, penugasan tersebut membuat ibu dari tiga anak kembar itu menambah waktu tempuh setidaknya 4 jam dalam sehari.

Dalam persidangan pada Rabu, 27 Desember 2017 itu, kuasa hukum Bank Permata menghadirkan Kepala Process Control Management Network Retail Banking sebagai saksi. Yenny merupakan atasan dari Ida Margaret Liani yang memutuskan penugasan tersebut. Kuasa hukum manajemen juga menghadirkan  Ratna Rasmi selaku HRBP Network Retail Banking sebagai saksi mewakili manajemen PermataBank.

Dalam kesaksian tersebut, Yenny Halim tampak tidak melakukan penugasan berdasarkan Perjanjian Kerja Bersama. Yenny mengaku hanya membaca PKB ketika pertama masuk dan sekilas saja setelahnya. “Pada kesaksian diperoleh keterangan bahwa Saudari Yenny Halim sama sekali tdk pernah menghormati Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sekalipun jabatannya membawahi kepentingan banyak karyawan,” terang Siaran Pers dari kantor kuasa hukum, Anindya, S.H, & Partner. Sebagai akibatnya, Yenny tidak dapat menunjukan pasal mana di PKB yang dapat menguatkan tuduhan mangkir dari manajemen.

Yenny Halim dalam persidangan mengakui Project SDB dinilai sangat penting. Padahal, selama 5 (lima) bulan pun, hingga sampai keluarnya surat skorsing, ia membiarkan pekerjaan tersebut tidak disentuh / ditangani siapapun. Terlebih, atasan langsung Ida yang merupakan bawahan Yenny juga tidak mengambil alih dan/atau menunjuk orang baru.

Selain itu, kesaksian menguak adanya tindakan tidak menyenangkan dari Yenny Halim pada Ida Margaret Liani. Kejadian itu terjadi saat pertemuan tim yang dihadiri oleh staff di bawah koordinasi Saudari Yenny Halim sebelum Saudari Ida Margaret Liani ditugaskan ke PermataBank Hayam Wuruk.  Indikasi tersebut dibuktikan dengan adanya dokumen surat pernyataan pembenaran terjadi perbuatan tidak menyenangkan dari beberapa karyawan. Bukti-bukti tambahan itu membuat Saudari Yenny Halim terdiam dan tidak mengeluarkan komentar apapun terkait hal itu

Pada Agustus 2016, Ida Margaret Liani mendapat informasi tentang penugasan ke Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Penugasan ini beralasan untuk melakukan Project Pembenahan Safe Deposit Box (SDB) di Permata Bank Hayam Wuruk.

Namun, tidak ada surat penugasan atau penjelasan alasan-alasan soal penugasan tersebut. Alih-alih, perusahaan malah memberikan surat mangkir pada Ida. “Arogansi kekuasan atasan dengan menggunakan MANGKIR yang tidak dapat dibuktikan masih terjadi dibeberapa kasus perselisihan hubungan industrial, hal ini menjadi catatan penting bahwa pemahaman mengenai PKB dan Undang-Undang Ketenagakerjaan sangatlah penting untuk dimengerti oleh semua atasan Pekerja,” imbuh siaran pers tersebut. Padahal, pemahaman Undang-undang Ketenagakerjaan dan PKB dapat menghindari berlanjutnya sengketa ke pengadilan.