Animasi Amerika Serikat: Senjata Menjinakan Sedari Dini

“Budaya konsumtif mendorong orang untuk menginginkan lebih – mobil, rumah yang lebih luas, televise, handphone, gadget dan semacamnya – dan sudah disiapkan cara berpikir positif untuk memberitahu orang-orang mereka layak mendapat dan memiliki lebih jka mereka menginginkannya dan bersedia berupaya untuk meraihnya

Pada Juli 2013, film Turbo produksi DreamWork Animation diluncurkan. Satu bulan setelahnya, film Planes buatan DisneyToon Studios juga diluncurkan. Kedua film itu bukan hanya sama-sama berwujud animasi, tapi tampaknya secara serupa mengkampanyekan ideologi berpikir positif yang penuh ilusi. Selain itu, keberhasilan yang dimaksud dalam Turbo dan Planes sangat identik dengan keberhasilan yang didengungkan budaya kapitalisme; populer dan kaya. Ini menjadi perlu diwaspadai karena sasaran produk budaya itu adalah anak-anak.

Keajaiban dan Optimisme Cerit

Turbo dan Planes, diawali dengan cerita tokoh utamanya yang memiliki mimpi besar dan ditertawakan oleh masyarakat sekitarnya. Dalam Turbo, seekor siput bernama Theo, yang kemudian merubah nama menjadi Turbo, bermimpi menjadi pembalap. Ia gila dengan kecepatan dan gemar sekali menonton balap mobil. Tentu saja ini menjadi cemoohan bagi rekan-rekannya, sesama siput. Sementara itu, Planes menceritakan tokoh pesawat bernama Dusty Crophopper. Ia merupakan pesawat kebun yang bertugas menyemprot pestisida. Di waktu senggang, Dusty menyempatkan diri melakukan manuver-manuver akrobatik.

Meskipun kedua mimpi itu tampak tidak mungkin terwujud, ada keajaiban-keajaiban dalam cerita yang memuluskan langkah kedua tokoh utama. Turbo dalam secara tidak sengaja tenggelam dalam cairan nitrogen yang membuat siput ini bisa berlari dengan kecepatan ratusan kilometer perjam. Keajaiban itu terus berlanjut ketika Turbo bertemu seorang penjual makanan kaki lima Tito. Tito terkejut dengan kecepatan Turbo. Ia bermimpi untuk mengikutsertakan Turbo ke balapan Indianapolis 500. Setelah melalui kontroversi, panitia terpaksa mengikutsertakan siput dalam balap mobil formula itu akibat desakan pembalap bintang Indianapolis Guy Gagne dan peserta konferensi pers. Keputusan ajaib bukan? Lewat pertarungan sengit, Turbo berhasil membekuk semua mobil balap itu dan memenangkan pertandingan. Turbo akhirnya membawa keberuntungan bagi Tito karena meramaikan penjualan makanannya dengan pertunjukan balap siput. Tito akhirnya tidak lagi miskin.

Keajabian-keajaiban serupa terjadi pada tokoh utama Planes, Dustry Crophopper. Dusty berambisi memenangi lomba Wings Across the World. Dusty ingin membuktikan ia melebihi asal usulnya ketika dibuat. “Lihat, aku lebih dari sekedar pesawat penyemprot hama,” ujarnya. Padahal, pesawat penyemprot memang dibuat untuk terbang rendah sehingga pestisida tidak berhamburan ke mana-mana. Dengan pelatihan terbang dari pesawat pensiunan perang dunia II Skipper Riley, Dusty berhasil lolos kualifikasi lomba balap bergensi Wings Across the World. Ia mendapatkan modifikasi tambahan, entah dari mana, dari temannya untuk berlomba. Ketika mengalami kecelakaan dalam mengarungi samudra Pasifik, Dusty juga secara ajaib mendapat pertolongan kapal induk Amerika Serikat. Ia akhirnya berhasil menang dengan nekat terbang tinggi dan menunggangi arus udara Jet Streams yang berhembus ke timur. Dusty akhirnya terkenal sebagai pesawat yang memiliki banyak penggemar.

Ilusi Positive Thinking

Planes dan Turbo tentu memiliki pola yang sama. Kedua tokoh memiliki ambisi luar biasa dan hampir tidak mungkin tercapai. Lantas, keajaiban-keajaiban terjadi mengiringi keinginan Dusty dan Turbo untuk mencapai mimpi. Berkat kegigihan dan keajaiban itu, mereka berhasil melampaui kodrat mereka masing-masing. Siput Turbo berhasil melewati mobil balap formula dan pesawat penyemprot hama Dusty berhasil terbang tinggi dan memenangi lomba terbang bergengsi mengelilingi dunia. Singkatnya, kedua film mendorong pemirsa untuk berpikir positif yang kurang lebih berisi: Semua orang akan mendapatkan apa yang ia mau, bahkan melampaui asal-usul, jika benar-benar gigih.

Apa yang salah dengan optimisme semacam itu? Penulis asal Amerika Serikat Barbara Ehrenrich membedah bahaya berpikir positif semacam itu dalam buku Bright-sided: How the Relentless Promotion of Positive Thinking Has Undermined America yang terbit pada 2009. Di Inggris, judulnya tampak lebih gamblang, Smile or Die: How Positive Thinking Fooled America and the World. Barbara berpendapat, kapitalisme tingkat lanjut membutuhkan propaganda berpikir positif untuk melestarikan sistem tersebut.

Berpikir positif mendorong masyarakat bekerja keras untuk meningkatkan konsumsi. Namun, berpikir positif seolah-oleh memberi jaminan orang bisa mengkonsume lebih banyak dengan bekerja lebih keras. Peningkatan konsumsi, entah dengan cara apa para konsumen mengupayakannya, merupakan lahan subur untuk pertumbuhan-pertumbuhan perusahaan. Dalam kapitalisme, pertumbuhan adalah keniscayaan agar tidak tergusur, terutama oleh modal yang lebih lemah.

Berpikir positif juga berguna sebagai pemakluman atas dampak-dampak buruk ekonomi pasar. “Jika optimisme merupakan kunci keberhasilan material, dan jika Anda mencapai pandangan optimis melalui kedisiplinan berpikir positif, maka tidak ada alasan untuk gagal,” tulis Barbara. Cara berpikir seperti ini melepas konteks ekonomi-politik bahwa pasar semakin lama mengerucutkan kekayaan pada segelintir orang. Juga, masyarakat digiring untuk menyalahkan diri sendiri karena menganggur atau miskin ketika ekonomi makro luluh lantah akibat ulah para pemodal besar, seperti dalam great depression pada 1920an hingga 1940an, krisis ekonomi Asia akhir 1990an, krisis dunia 2008, serta krisis Eropa yang hingga kini masih berlangsung. Barbara mengusulkan sebuah alternatif berpikir realistis dan menghadapi dunia apa adanya. Ia juga menolak pesimisme karena itu sama halnya dengan ilusi optimisme.

Dalam film Turbo dan Planes, ilusi berpikir positif semakin menjadi-jadi karena mendapat pembenaran dari bentuk fiksi animasi. Gagasan berpikir positif akan masuk dengan . Dengan tampil sebagai animasi, film ini semakin mengaburkan kenyataan hidup. Keajaiban-keajaiban yang mencapuri jalannya cerita tentu sangat kecil sekali peluangnya terjadi di dunia nyata. Padahal, keajaiban-keajaiban seperti itu tidak mungkin juga memupus begitu saja asal usul kelas seseorang (yang dalam film disimbolkan sebagai kodrat pesawat penyemprot hama dan siput yang lamban). Anak kelas pekerja miskin yang hanya mendapat gaji UMP di negara kapitalisme memiliki peluang jauh lebih kecil bersekolah hingga universitas ketimbang anak-anak kelas menengah dan kelas atas.

Dari banyak anak kelas pekerja yang miskin itu, memang segelintir sekali berhasil mencapai apa yang disebut kesuksesan baik dalam bentuk hartau atau karir. Segelintir itu, menurut sosiolog Perancis Pierre Bordieu, terus didengungkan untuk menciptakan mitos kesetaraan dalam masyarakat kapitalisme. Turbo dan Planes bisa dipandang sebagai sarana ideologis untuk membangun mitos tersebut pada anak-anak. Kemasan animasi yang menarik untuk membungkus ideologi berpikir positif itu terbukti laris di pasaran. Turbo menjadi nomor satu di 32 kawasan. Film ini menjadi salah satu film yang paling disukai di Cina, Korea dan Venezuela. Film Planes meraup laba kotor $219,788,712.

Pengutamaan Materi

Selain ilusi berpikir positif, Turbo dan Planes mengarahkan khayalan anak-anak akan keberhasilan. Keberhasilan yang identik dengan harta dan ketenaran mengaburkan ukuran-ukuran pencapaian hidup lainnya. Ini dicerminkan dalam Tito, penjual kaki lima yang menemukan Turbo, yang menjadi kaya setelah berhasil “menjual” balap siput. Presiden Venezuela Hugo Chavez, dalam War on Democracy, mengkritik pedas kekayaan sebagai tujuan hidup. “Saya selalu mengatakan kita tidak ingin menjadi kaya. Tujuan kita bukanlah kekayaan materi. Tujuan kita adalah hidup bermartabat, tentu dengan mengentaskan diri dari kemiskinan…Tidak menjadi milyuner,  jalan hidup orang Amerika, tidak, itu bodoh,” kata Chavez.[iii][3]

Ukuran kekayaan sebagai keberhasilan macam itu biasanya ditakar dalam Pendapatan Domestik Bruto yang menghitung kegiatan ekonomi suatu negara. Alih-alih menakar kekayaan suatu bangsa, ukuran ini sebenarnya sekedar menghitung besaran kegiatan pasar. Pada 2008, Pemerintah Perancis membentuk Komisi Pengukuran Kinerja Ekonomi dan Kemajuan Sosial untuk mencari alterntif perdap Produk Domestik Bruto. Bhutan, sebuah negara kecil di kaki pegunungan Himalaya, menolak mengukur keberhasilan bangsa mereka dengan kekayaan materi. Alhasil, mereka membuat satuan ukur kemajuan dengan Gross National Hapinnes (GNH) atau Kebahagiaan Kotor Nasional. Bhutan merupakan satu-satunya negara yang mengukur kemajuan masyarakat mereka bukan dari harta, tapi dari kebahagiaan. GNH mengukur di antaranya Kebaikan Ekonomi seperti kemerataan penghasilan, utang konsumen dan Kebaikan Sosial seperti angka perceraian dan diskriminasi.

Ajak Anak Berbicara

Dalam memahami film-film seperti Planes dan Turbo, terutama ketika penontonnya adalah anak-anak, perlu bagi orang tua untuk mengajak anak-anak membahas pesan-pesan tersembunyi film itu. Tentu dengan bahasa yang lebih sederhana dan membumi. Melarang mereka menonton akan membuat mereka penasaran. Toh, animasi film-film tersebut memang cukup menarik. Dengan mengajak anak-anak berbicara, mereka tidak perlu menyalahkan diri mereka sepenuhnya ketika kesulitan berhadapan dengan kenyataan kesenjangan sosial. Menimpakan kesalahan pada diri sendiri, ketika sumber ketidakadilan adalah sistem ekonomi-politik yang tersusun kokoh dalam kapitalisme, tentu bisa membuat anak menjadi frustasi dan memandang rendah diri. Orang tua bisa mengajarkan anak-anak mereka bahwa keadilan dan kesetaraan bisa terjadi dengan merubah sistem ekonomi-politik, bukan dengan berpikir positif secara membabi buta seperti yang dikampanyekan animasi-animasi produk negara kapitalis Amerika Serikat. Tujuan-tujuan hidup lain juga bisa ditawarkan setelah menonton Planes dan Turbo. Ini bisa dengan memberi contoh orang-orang yang memiliki tujuan hidup untuk melakukan perubahan sosial, bukan sekedar kekayaan materi.