Aksi Nyata Lawan Paradigma dan Stigma 

 

Agi-berjaket

Saya telah melakukan kesalahan besar! Membuat orang kecewa karena telah mengingkari janji. Saya berjanji akan bertemu di titik kumpul di RSCM, Salemba, pada jam 09.00. Namun, saya baru sampai di RSCM jam 14.45. Waktu yang terpaut sangat jauh.

Iya ini suatu kesalahan yg fatal bagi saya, dampaknya saya tidak bisa rally bersama kawan kawan Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) dari titik Nol keberangkatan suatu aksi. Saya bertemu kawan-kawan di depan Gerbang Indosat dekat patung kuda jam 15.00. Saya sampai disana dengan rasa malu dan menyesal.

Ini adalah May Day pertama. Begitu pula dengan baju yang saya kenakan. Ini juga baju May Day yang pertama. Jujur saja, dua hari sebelumnya saya sudah mencuci bersih, dan sebelum berangkat aksi saya sudah menyetrika dengan rasa bangga. Dengan sebuah tanggung jawab, saya sadar betul bahwa saya akan menghadiri acara yg sangat bergengsi. May Day adalah sejarah panjang sebuah perjuangan dan pengorbanan, bukan sebuah hadiah dari tirani yang tak tau diri.

May Day pertama, saya bersyukur karena masih diberi kewarasan untuk bisa bernyanyi, berteriak, dan terus menyerukan tuntutan. Nada-nada saya mungkin sumbang, namun tak akan tumbang !

May Day pertama ku, stigma di luar sana masih sama “Ngopo demo terus, marai macet sayah rusuh, ujung-ujungnya njaluk upah gedi, mending metu dadi buruh njuk usaha dewe, daripada meng nggawe kisruh.” Artinya kurang lebih, “Buat apa demonstrasi terus, membuat macet, lelah, rusuh, ujung-ujungnya minta upah besar, lebih baik keluar tidak lagi menjadi buruh, memulai usaha sendiri, daripada membuat kisruh.”

Betapa angkuhnya dirimu wahai anak muda, sadarkah kau sekolah mu itu telah disubsidi, sadarkah kau jalan yg kau lewati , fasilitas publik yg kau nikmati adalah kolektif pajak yg di bayar oleh kaum Buruh! sekali lagi di bayar oleh kaum Buruh !!!

May Day pertama paradigma diluar sana masih sama. Masih bangga dengan teori basi, kemudian memutilasi logika. Sadarlah kawan! sadarlah kawan! Rakyak sedang butuh kalian, sehari saja kawan, tinggalkan pekerjaanmu, sehari saja kawan lihat lah keringat hitam berdesakan mencari bejana yg disebut Perjuangan. Sehari saja kawan bersihkan nurani kemudian mari kita beraksi !!

 

8 Jam Bekerja, 8 Jam Berbagi, 8 Jam Tidur.

Mari tengok baik baik sejarah, jam kerja merupakan suatu pencapaian dan perjuangan panjang. Bukan regulasi dadakan buatan imajinasi yang membentuk narasi.

Saya tahu betul pentingnya sebuah pembelajaran dan evaluasi diri, aksi ini adalah sebuah pendidikan bagi saya, mencoba untuk membuka psikis, mencoba memilah dan menyortir semua tindakan yg ada.

Revolusi Revolusi sampai Menang,

Aksi lagi Aksi lagi sampai Menang.

“Kemenangan buah dari menyerang dan bertahan, bukan diam dan beralasan ”

 

Balaraja, 03 Mei 2017

15.14 WIB

– Agi Suci Nur Indra –