Air Mata Messi dan Buruh Pabrik Sepatu di Tangerang

Simbol Sepatu Adidas

Ketika Messi menitikkan air mata karena Team Tango gagal melaju ke babak 16 besar, sebenarnya dia tidak sendiri. Ada orang lain yang juga menangis, bahkan hingga kering. Ratusan atau bahkan ribuan buruh perempuan pabrik sepatu di Tangerang juga menangis bersama dengan Messi. Meskipun, mereka melakukannya dengan alasan yang berbeda.

Messi menangis karena kekecewaan mendalam. Piala Dunia 2018 di Rusia adalah hajatan Piala Dunia terakhir baginya. Artinya, sebagai mega bintang sepak bola, dapat diartikan dia gagal mempersembahkan gelar buat negaranya. Sedangkan buruh perempuan pabrik sepatu di Tangerang menangis karena masalah upah dan cuti haid!

Sebagaimana dirilis oleh http://www.sepakbola.com/, disebutkan bahwa Adidas memproduksi sepatu khusus untuk sang bintang dengan nama Nemeziz 18+. Adidas merilis bahwa sepatu ini ide besarnya mengambil gagasan tentang hubungan antara puntiran, suport dan ketangkasan dan mendukung pemain yang paling mengganggu di pertandingan. Kriteria itu merujuk pada kualitas Messi sebagai salah satu pemakai sepatu ini. Harga sepatu ini adalah 290 USD untuk sepatu tanpa tali dan 225 untuk sepatu dengan tali. Dengan kurs hari ini yang sebesar Rp. 14. 380 harga itu setara dengan 4. 170. 200 rupiah. Lebih tinggi dibanding UMK di Tangerang sana, termasuk upah buruh pabrik sepatu yanag memproduksi merk tersebut!

Apa hubungannya dengan Buruh Perempuan di Pabrik sepatu? Berdasarkan data yang dimiliki oleh Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) disebutkan bahwa buruh perempuan (yang bekerja di pabrik sepatu dan memproduksi merk yang sama dengan sepatu Messi) tersebut, kesulitan mendapatkan cuti haid. Mereka dipaksa masuk bekerja pada saat haid dengan kompensasi upah sehari. Artinya buruh dipersulit mengambil hak cuti haid dan dipaksa bekerja. Kenapa demikian? Karena buruh yang cuti haid dan tidak masuk bekerja itu mengurangi produktivitas.

Pabrik di Tangerang tersebut mempekerjakan 2000 orang buruh dan 75 persen atau sebanyak 1500 adalah buruh perempuan. Produksi sepatu per jam adalah 100 pasang. Kemampuan produksi satu orang buruh dalam sebulan = (17.500 pasang sepatu : 2000 buruh) = 8,75 pasang sepatu per hari. Sepatu reguler (bukan seperti punya leo Messi) yang diproduksi harganya berkisar 1,5-2 jutaan. Hitung saja berapa hasil kerja buruh.

Menurut penelitian dan perhitungan (pada 2012) dengan “melarang buruh cuti haid” dan mengganti dengan upah sehari, dikalikan 2 hari cuti, perusahaan yang mempekerjakan 1500 buruh perempuan tersebut (dengan asumsi UMK 2012 sebesar Rp. 1.381.000), perusahaan bisa menyelamatkan uang sebesar Rp. 6. 201. 360.000 –(6,2 M sodara-sodara). DUIT 6,2 M RUPIAH ITU, SETARA DENGAN UMK UNTUK 1.500 BURUH PEREMPUAN SELAMA 3 BULAN!

JADI, SEKARANG SUDAH TAHU? MESSI DAN BURUH PEREMPUAN PABRIK SEPATU NANGIS? MEREKA SAMA-SAMA NANGIS UNTUK DUA ALASAN YANG BERBEDA!