Ada Kebebasan, Tapi Semakin Dibatasi #20threformasi bagi Buruh

Ketua Umum KPBI Ilhamsyah berbicara di Mimbar Bebas 20 Tahun Reformasi bersama pimpinan gerakan lainnya

Buruh.co, Jakarta – Gerakan Buruh untuk Rakyat bersama Panitia Bersama peringatan 20 Tahun Reformasi menggelar mimbar peringatan dua dasawarsa lengsernya kediktatoran Soeharto. Peringatan dilangsungkan pada Senin, 21 Mei 2018 di depan Istana, Jakarta.

Dalam mimbar tersebut, berbagai tokoh gerakan rakyat hadir menyampaikan pendapat mereka tentang reformasi. Dari sisi buruh, tampak reformasi yang salah satunya bertujuan membuka ruang-ruang demokrasi tampak semakin jauh panggang dari api.

Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) sempat menyebutkan reformasi membuahkan terbukanya ruang demokrasi dalam wujud kebebasan memprotes pemerintah. Ketika Orde Baru, hal itu bisa berbuah penjara, penyiksaan, atau bahkan kematian. “Reformasi adalah suatu kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum. Ini adalah buah dari reformasi. Kita berkumpul dan menyampaikan aspirasi, cita-cita, dan kritikan pada negara bisa kita sampaikan,” kata Ketua Umum KPBI Ilhamsyah pada kesempatan itu.

Ilhamsyah sendiri pernah merasakan dinginnya jeruji besi ketika membuat grafiti mengajak rakyat menggulingkan Soeharto. Ketika itu, ia merupakan bagian dari Partai Rakyat Demokratik yang getol melawan kediktatoran Orde Baru.

Hal senada disampaikan Konfederasi Serikat Nasional. Ketua Umum KSN Hermawan Hari Sutantyo menyebutkan setelah 20 tahun kebebasan itu semakin terenggut. “Belum selesai sehingga keterbukaan, kebebasan berserikat, melakukan aksi, ini kembali lagi kurang bisa seluas-luasnya lagi,” ujarnya. Untuk itu, ia mengajak segenap gerakan rakyat berjuang untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Sementara, Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) menyampaikan pihak aparat merupakan aktor yang menekan buruh untuk menikmati buah reformasi itu. Ini karena aparat tajam dalam menerapkan hukum. “Di depan pabrik-pabrik ada spanduk-spanduk yang menjadi penjaganya kaum modal. Tapi kaum buruh yg tertindas, terancam, tidak punya ruang kebebasan masih terus ditekan. reformasi ini menjadi tugas gerakan rakyat menjadi cita-cita agar manusia selayaknya memanusiakan manusia, rakyat punya menghirup angin segar kebebasan berpikir, berkumpul, bahkan berjuang,” serunya.

Tidak ketinggalan, Ia juga menegaskan perlunya perjuangan pembebasan terhadap penindasan perempuan. “Tidak ada pembebasan rakyat tanpa pembebasan perempuan,” kata Nining.

Selain dari elemen buruh, berbagai elemen juga menyampaikan renungan tentang 20 tahun reformasi. Di antaranya Perempuan Mahardika, Solidaritas Perempuan, KontraS, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, dan Aliansi Jurnalis Independen.

Selain mimbar yang menjadi bagian panggun demokrasi, panitia dan GEBRAK juga membuat catatan 20 tahun reformasi. Catatan itu memuat berbagai sektor dari tani, buruh, hingga HAM.