#8JamKerja = Keluarga Buruh Bahagia!

Ini cerita tentang Bu Minah, buruh di pabrik garmen, suaminya bernama Pak Yatno, satpam di gudang beras pasar induk. Anak mereka 2. Cahya, si sulung sudah kelas 3 SD, dititipkan di rumah mertuanya di Cianjur. Sella, anak kedua, baru berumur 5 tahun. Belum sekolah.

Bu Minah, harus kerja 12 jam di pabrik garmen. Mandornya bilang harus lembur karena target eksport sangat tinggi. Suaminya juga harus kerja 12 jam di gudang beras. Beruntung, mereka berbeda shift sehingga bisa bergantian mengasuh Sella anak bungsunya.

Tapi ada masalah, Bu Minah sudah harus berangkat jam 5 pagi, sementara suaminya baru pulang sampai rumah kontrakan jam 8. Ada waktu sekitar 3 jam dimana Sella tanpa pengawasan kedua orang tuanya. Beruntung, ada Istri Wak Haji Syueb pemilik rumah petak yang bisa dititipin Sella. Tapi, siapa yang berani menjamin bahwa Sella aman?

Demikianlah, jam kerja yang panjang membuat keluarga Pak Yatno dan Bu Minah harus memeras keringat dan menggadaikan hidupnya di pabrik. Mereka, harus merelakan buah hatinya tanpa pengawasan yang cukup, tidak ada waktu yang cukup bagi mereka berdua untuk berkumpul, pergi kondangan bareng atau sekedar sholat berjamaah kala Maghrib tiba.

Jam kerja yang panjang, membuat mereka hidup sangat lama di pabrik, kehilangan kesempatan untuk hidup normal. Tapi, tidak ada pilihan lain. Mereka harus lembur –selain—karena perintas majikan, juga karena mereka berpikir, kerja sebagai buruh PKWT tidak menukupi gajinya. Pabrik melakukan penangguhan upah sehingga harus ditutup dengan upag lembur. Tambahan upah darilembur itu, dipakai buat bayar kontrakan, bayar angsuran motor dan mengirimkan uang ke mertuanya di Cianjur…..

#8JamKerja, memastikan keluarga hidup lebih bahagia. Sekarang, rasanya #8JamKerja sedang dikuasai para mandor di pabrik. AYO REBUT KEMBALI 8 JAM KERJA!
(Khamid Istakhori)